Special Event Kelas 2 SD Tugasku Pulomas Jakarta Timur.
Ruang kelas 2 SD Islam Tugasku mendadak berubah jadi galeri budaya mini. Dalam kegiatan Special Event bertema ” Kerajinan Tangan Tradisional Nusantara”, para siswa diajak menyentuh langsung kekayaan budaya Indonesia lewat prakarya dan wawancara.
Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi Berkebhinekaan Global, Kreatif, dan Mandiri.
Siswa dan siswi kelas 2
Merasakan Tanah Liat dengan membuat Cangkir dan Melukis vas Gerabah
Dengan dipandu guru, siswa kelas 2 mencoba teknik dasar membentuk tanah liat. Dari gulungan tanah yang masih basah, perlahan terbentuk cangkir kecil karya mereka. Di sesi lain, siswa melukis vas gerabah polos dengan motif bangun datar yang sudah dipelajari dalam pelajaran matematika. Mereka belajar bahwa gerabah bukan sekadar benda pakai, tapi warisan teknik leluhur Jawa yang butuh kesabaran dan ketekunan.
“Ternyata susah tapi seru. Tanganku jadi kotor tapi aku bangga,” ujar Dhayu siswa Kelas 2.
Berikutnya mereka membuat Payung Geulis dan Kipas Pakarena.Kegiatan yang dipenuhi warna. Siswa melukis payung geulis khas Tasikmalaya dengan motif bunga dan ikan. Mereka belajar bahwa payung geulis dulu dipakai para menak Sunda dan kini jadi simbol keanggunan.
Tak jauh dari situ, siswa lain sibuk untuk membuat kipas pakarena dari Sulawesi Selatan. Sambil berkarya, guru bercerita bahwa kipas ini dipakai dalam Tari Pakarena yang menggambarkan kelembutan dan kesopanan putri Kerajaan Gowa.
Meronce dan membuat Gelang Manik-Manik
Yang paling ramai dan menambah keseruan. Siswa memilih manik warna-warni dan meronce jadi gelang sesuai pola. Dari kegiatan ini mereka tahu bahwa setiap warna dan pola pada manik punya makna: merah untuk keberanian, hitam untuk penjaga, dan putih untuk kesucian. Kegiatan ini melatih motorik halus sekaligus ketelitian.
Lalu mereka melakukan sesi wawancara kepada warga sekitar SD Islam Tugasku,yang terdiri dari Kepala Sekolah,Direktur Pendidikan,guru,satpam dan OB sekolah. Mereka bertanya tentang asal suku dan kerajinan khas dari sukunya. Siswa dibagi berkelompok dan bertanya: _“Asal suku bapak/ibu dari mana?
Kerajinan khas dari suku bapak ibu apa?
Ada yang mewawancarai Ibu Anik dari Jawa yang jenis kerajinan tangannya adalah wayang kulit, ada yang bertanya pada Pak Harun dari Komering (Melayu) yang jenis kerajinan tangannya songket. Dari sini siswa belajar bahwa Indonesia punya 1.340 suku bangsa dengan karya unik masing-masing. Mereka berlatih menghargai perbedaan dan bangga jadi bagian dari Indonesia.
Melalui special event ini, siswa kelas 2 tidak hanya membuat prakarya. Mereka menyentuh, merasakan, dan mendengar cerita di balik setiap kerajinan. Nilai gotong royong muncul saat mereka berbagi manik-manik. Sikap mandiri terasah saat mereka membereskan meja kerja. Dan rasa cinta budaya tumbuh saat mereka membuat kerajinan.
Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke Booth tiap kelas di hall sekolah. Booth kelas 2 di hias dengan Cangkir tanah liat, payung geulis lukis, kipas pakarena, pot gerabah, dan gelang manik-manik di susun berjajar rapi — bukti bahwa tangan kecil pun bisa ikut menjaga budaya Nusantara.

















